Pemuda Itu ?

                Banyak pelajaran yang dapat kupetik di hari ini, pelajaran yang semoga dan aku berdo’a agar tindakan nista itu tidak terulang lagi. Aku tidak ingin banyak bercerita tentang apa itu tindakan nista, aku ingin memulai lagi walau sekitar sebulan yang lalu folder “memulai” yang berisi tulisan-tulisan ku sudah ku buat dengan rapi tapi kali ini aku ingin memulai lagi, merajut kembali benang-benang halus untuk menciptakan karya yang sangat berharga nanti.

                Siang itu, ku kunjungi kembali toko buku kesayangan ku. Banyak cerita tentang toko buku ini. Dia lah yang bersejarah mengobati luka-luka hatiku yang kadang melupakan-Mu. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an bersamaan dengan intrumen music klasik itu seperti biasa menemaniku siang itu. Benar saja disini semangat ku tumbuh kembali, melihat ribuan karya diburu oleh banyak pasang mata aku tahu mereka sebagian besar adalah pemuda. Lantas mengapa aku tidak bisa ? dan jawab dalam hatiku “pasti bisa”. Api semangat kumpulan karya itu telah berhasil membius ku kembali untuk kunjungan yang kesekian kali.

                Aku tidak terlalu lama berada dalam toko buku itu, bergegas ku memasuki masjid yang ada disekitarnya. Setelah kulaksanakan sholat sunnah sebagai tanda penghormatan ketika memasuki masjid, aku merasa ada masalah dengan hidungku. Imunitas tubuhku sepertinya sedang menurun aku sudah merasakan ku sejak berangkat naik angkot hijau itu. Aku pun segera membersihkannya di kamar mandi itu, disinilah pertemuanku dengannya. Seorang pemuda kurus dan sedikit pendek itu tiba-tiba menghampiriku.

“Assalamualaikum” sapanya yang ketika itu terlihat olehku sengaja menunggu di anak tangga itu.

“Walaikumsalam”

“Masih sekolah ?” ini pertanyaan yang sempat membingungkanku sejenak.

Setelah mikir beberapa detik langsung ku jawab “masih”

“Kelas berapa sekarang”

Dengan tidak berpikir panjang langsung ku beri kalimat klarifikasi “kuliah mas”
Berpikir dalam hati perasaan wajahku nggak muda-muda banget.

Kemudian dilanjut dengan pertanyaan-pertanyaan kepo yang mengundang tanda tanya di kepala ku tentang maksud dari mas yang belum aku tahu namanya itu.

                Ku pikir pertemuan di anak tangga tadi sudah berakhir ketika menyelesaikan tilawah setelah itu. Ternyata tidak, mas itu sengaja menghampiriku lagi dan langsung mengungkapkan maksud dan tujuannya. Dengan wajah iba, dia sedikit bercerita bahwa dia sedang mengalami kesulitan untuk pulang ke Sukabumi. Kala itu aku tidak terlalu banyak berbicara walau terlihat sekali dia mengundang ku untuk banyak bercerita tentang pribadiku.

                Singkat cerita, ku coba mengikhlaskan sedekah ku untuknya dan semoga tidak disalah gunakan. Memang agak sedikit berat, karena ini juga masa-masa ku sedang dalam kesulitan dalam finansial. Berpikir positif adalah solusinya, karena ilmu itu tidak ada yang gratis dan harus ada pengorbanan agar dapat hikmah yang bermanfaat maka pelajaran yang dia berikan tentang arti hidup di masa muda ini telah berhasil menegurku yang masih berleha-leha. Pemuda seperti dia yang sudah memiliki satu anak, dengan tanggung jawab besar di pundaknya menjadikan dia terkatung-katung seperti itu. Perjuangan hidup yang dia lalui telah berhasil menusuk hatiku dan membuatku semakin semangat untuk memperbaiki nasib. Seperti kutipan yang kubaca disalah satu buku seorang public speaker yang mana diawal bukunya dimulai dengan kutipan dari John Maxwell “Apapun yang terjadi disekitar kita tidaklah begitu penting. Yang terjadi didalam diri kitalah yang sangat penting”,
Selalu ada cerita dibalik sebuah kisah. . .
Kembali melihat diri.

Rasoki Martua

Bogor, 8| 08| 2014

Adalah Lucu Ketika #Diluar_konteks

               Bagi pemangku kebijkan angka 100 sangat sensitif terhadap pencapaian-pencapaian yang telah berhasil ditorehkan. Yang konon katanya tradisi ini dimulai ketika F.D. Roosevelt Presiden Amerika Serikat menyampaikan program-program yang telah dicapainya dalam jangka waktu kurang lebih 1 caturwulan itu. Walaupun ini belum pasti kebenarannya setidaknya info ini saya dapatkan dari hasil audiensi dengan Walikota Bogor di masa 100 harinya. Bima Arya ketika itu menjelaskan di awal perihal masalah ini, tetapi walaupun ketika di masa kampanye beliau tidak pernah menjanjikan program di 100 harinya, beliau masih menerima kita mahasiswa untuk duduk bersama menjabarkan tentang pencapaian itu.

                Namun ada sebuah fenomena menarik yang perlu dipertanyakan. Apa yang terjadi dengan seorang pemangku kebijakan ketika angka ini tidak begitu dihiraukan ? menurut saya memang ada 2 kemungkinan. Yang pertama dia memiliki pemikiran yang sama dengan Bima Arya akan pemahaman konteks ini, karena memang tidak ada kitab perundang-undangannya yang mengatur tentang hal itu. Atau yang kedua mungkin ini yang saya sebut adalah lucu ketika, kemungkinan besar lupa akan hal ini memang menjadi alasan utama, tapi tidak ada perencanaan dan seolah nanti biarkan saja berlalu adalah faktor yang harus dikaji lagi lebih dalam mengapa hal ini bisa terjadi. Itulah yang kupikirkan ketika teks sms malam itu ku kirimkan ke ponsel-ponsel milikmu.

                Dimulai saat 7 Mei itu, aku masih ingat dengan cukup rinci apa yang terjadi di hari itu. Walau belum sempat untuk menuliskannya, namun kejadian baru dan diluar konteks berpikir kita memang dapat mengisi memory ingatan di otak dan itulah yang ku yakini sampai saat ini. Rabu, sesuai dengan penanggalan yang telah kita sepakati bersama bahwa malam ini warga kampus akan mengetahui siapa saja pilar-pilar eksekutor itu. Untuk mempersiapkan segala sesuatunya maka jam 5 sore kita merencanakan untuk briefing sebentar agar nanti acara berjalan dengan lancar, tidak tahu apa yang menjadi alasan dari beberapa orang karena budaya terlambat itu juga masih berlaku bahkan ketika sudah akan diangkat sumpahnya. Sempat malu ketika pengisi acara yang juga merupakan calon pengurus hadir lebih awal dan lebih antusias melihat kakak-kakaknya yang akan dilantik nanti.

                Karena faktor ini juga konsep pelantikan yang sudah disiskusikan ke beberapa orang gagal disampaikan karena waktu yang kian sempit. Jadi, malam itu menggunakan konsep pelantikan biasa seperti yang sebelumnya pernah kita lihat. Seperti otak dimiringkan 45 derajat yang menyebabkan mulut berhenti bekerja ketika salah seorang personil kabinet sore itu menyampaikan sesuatu yang diluar dugaan, lagi dan lagi terlalu banyak kejadian yang di luar dugaan sehingga semakin membuat jemariku semakin lincah menari-nari diatas papan persegi ini. Mengundurkan diri karena alasan yang sampai sekarang aku masih berusaha menelaah dan memahaminya, sulit memang karena aku juga bukan psikolog atau seorang mentalist yang bisa membaca pikiran orang.

                Jam setengah 6 lebih sedikit itu setelah rekan tadi menyampaikan keinginannya untuk tidak melanjutkan. Maka segera ku kumpulkan rekan yang lain untuk diminta pendapatnya. Hasil pertemuan yang singkat itu aku dan beberapa orang mencoba untuk berbicara kembali perihal masalah tadi dengan rekan yang berniat untuk mengundurkan diri dan rekan lainnya berada di TKP untuk tetap menjalankan agenda yang telah kita rencanakan, walau konsekuensi nya mahasiswa yang lain pasti menanyakan dimana keberadaan ku saat itu.

                Setelah sholat maghrib dan berdo’a agar permasalahan ini diberikan sebuah jalan yang terbaik. Kita pun membuka lingkaran diskusi dengan disertai rekan X yang ingin kita minta penjelasannya. Sampai waktu isya tiba aku dan bersama rekan-rekan pendamping belum juga menemukan jalan keluar. Tidak menyerah begitu saja, kita mencoba tetap melanjutkannya di ba’da isya. Dengan metode berbicara yang lebih halus lagi dan berusaha memahami apa sebernarnya yang menjadi titik permasalahan. Di konteks nalar manusia saat Lagu Indonesia Raya di kumandangkan, rekan X beranjak dari temapt duduknya bergegas mencari almamater kebanggaan dan bersedia untuk diangkat sumpahnya.

                Sekelumit cerita itu, yang ketika ku mengingatnya maka aku merasakan pertolongan Allah yang begitu dekat. Penggugur dosa-dosa ini pun ku terima dengan ikhlas ketika seorang rekan mengingatkan akan cobaan yang menimpa kita semua ini.

                Sekarang adalah tepat di 100 Hari-mu, sepertinya jika aku menuliskan ini di lemabaran-lembaran word yang aku gunakan. Tak tahu kapan akan berakhir tulisan ini, di luar konteks berpikir dan semua terjadi atas kuasa-Nya sebagai alasan memory ini masih detail menyimpan folder-folder ingatan itu seperti yang aku analogikan diawal tadi.

                Namun adalah lucu ketika di 100 hari ini tidak kau ingat lagi akan sumpah yang kau ucapkan kala di saksikan oleh Allah, malaikat dan orang-orang beriman itu.

                Adalah lucu ketika dada almamater tempat bersandarnya garuda itu hanya dijadikan simbolitas upacara pelantikan biasa.

                Adalah lucu ketika tangisan di hari penuh bahagia itu hilang tanpa bekas dan kau lupakan begitu saja.

                Adalah lucu ketika foto bersama pejuang demisioner masih tersimpan rapi, bahkan ponsel milik mu saja ingat kapan foto itu di jepret.

                Adalah lucu ketika sepinya massa di hari itu karena ketidaktahuan mereka, itu jugakah menjadi alasanmu untuk mudah melupakannya.

                Adalah lucu ketika di malam itu aku berusaha mengingatkan tentang hari ini, kau malah menanyakan balik kepada ku.

                Dan adalah lucu ketika malam itu kau yang tidak merespon apa-apa seolah kau paham dan tahu akan hari itu dan membiarkanku menunggu balasan ketahuan mu itu.

                Dan bahkan adalah lucu ketika malam itu kau menanyakan SIAPA AKU ? seakan liburan itu telah berhasil menimbun tanpa jejak nama ku di hp mu.

                Sekarang kau bisa mengukur sudah sejauh mana kau melangkah. Telah ku coba upaya untuk membantu semampuku. Aku tahu ini bukan lagi tentang kau, aku, mereka, dia, anda, ente, antumna, dan istilah-istilah yang menggambarkan tentang personalitas seseorang. Ini tentang kita, langkah ini harus tetap diayunkan. Memahami ini adalah bagian dari proses tumbuh dan berkembang dan kita yang sekarang adalah cerminan kita di 20 tahun mendatang.

Sebuah kutipan diakhir tulisan ini yang semoga dapat menjadi bahan perenungan dan semangat “Tentang kesempatan itu hanya diberikan untuk orang-orang yang siap dan mempersiapkan untuk menjemput kesempatan itu adalah pilihan yang tepat.”

Catatan :
Setelah di telaah lebih dalam ternyata jumlah hari belum genap 100, maaf atas kekurangtelitian ini. Karena momentum latar tulisan yang tepat untuk di posting saat ini. Maka aku putuskan untuk tetap memostingnya. Semoga tulisan yang jauh dari kesempurnaan ini bisa bermanfaat untuk kita. . .

Salam

Rasoki Martua
Bogor, 7| 08| 2014

Pemuda, Apa kabar AEC 2015 ?

Bogor, 29 Oktober 2013

Perkumpulan berbagai aliansi gerakan mahasiswa eksternal Bogor berkumpul dalam suatu forum yang ketika 85 tahun yang lalu dilakukan oleh berbagai organisasi pemuda dengan latar belakang yang berbeda. Sore itu walikota Bogor terpilih “Bima Arya” menghadiri agenda tersebut walau memang secara sudut pandang bagaimana bisa agenda kecil seperti bisa menarik perhatian walikota untuk memprioritaskan waktunya untuk datang, mungkin bisa jadi karena tempat tersebut berada di sekitar lingkungan rumah beliau, atau mungkin ada faktor lain. Untuk saat ini saya sendiri belum melakukan analisis terkait hal tersebut.

            Seperti yang dikatakan beliau dalam penyampaian materinya “memperingati hari sumpah pemuda bukanlah hanya sebatas simbolisasi acara atau berupa wacana (retorika) namun bagaimana pemuda ini mampu mengisinya dengan mengasa kepekaan”. Cukup tertarik dengan kata kepekaan yang disampaikan beliau, tentang aktivis sekarang banyak terjebak dalam rutinitas diskusi dan ceremonial namun gagap ketika terjun ke dalam realita lapangan.

            Berbicara tentang pemuda saat ini dapat dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu pemuda aktivis, apatis dan akademis dan mirisnya mayoritas pemuda Indonesia berada di kategori pemuda apatis. 2015 mendatang Indonesia akan dihadapkan dengan arus pasar bebas yang merupakan momok yang menakutkan bagi Negara-negara dunia ketiga khususnya Indonesia karena secara tidak langsung Perang Dunia ketiga kian mendekat namun amunisi-amunisi yang dipersiapkan pemerintah untuk meyelamatkan bangsanya dari penjajahan ekonomi masih sangat minim. Berbeda kondisinya dengan Negara tetangga Thailand, salah satu bentuk keseriusan pemerintahnya dalam mempersiapkan pasar bebas 2015 nanti yaitu dengan memasang spanduk himbauan tentang ancaman pasar bebas.

            Kedepannya pemuda-pemuda yang memimpin negeri ini bukan lagi para pemuda yang lihai beretorika namun pemuda yang matang secara kompetensi dan profesionalisme. Argumen ini didukung juga dengan semakin mendekatnya arus pasar bebas yang menuntut pemuda Indonesia mampu bersaing dalam ranah internasional. Dikutip dari pidato Bung Karno yang disampaikan ketika supersemar pemuda yang dibutuhkan bangsa ini juga adalah pemuda yang memiliki karakter.

Rasoki Martua

Bogor, 3 |08 |2014

Pantai Barat – Tapsel

Pantai yang jauh dari eksploitasi manusia dan masih sangat asri. Tak banyak yang tahu tentang keberadaan pantai ini, sebutan Pantai Barat yang kemungkinan besar diambil dari posisi arah mata angin pantai ini. Pantai yang langsung menghadap ke Samudera Hindia memiliki kadar garam yang sangat tinggi. Pasir dan ombak besar menjadi keunggulan tersendiri, Pantai Barat - Tapselnamun belum terdengar olehku sampai sekarang tentang rencana pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan untuk mengembangkan tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata. Padahal jika harapan itu terwujud maka pendapatan asli daerah akan banyak bersumber dari pariwisata alam ini karena bukan hanya pantai saja yang ada di daerah ini namun Danau Siais juga hanya beberapa kilometer saja dari tempat ini.

Kondisi jalan yang rusak dan kurangnya perhatian daerah terhadap potensi wisata ini menjadikannya semakin terlupakan. Untuk berwisata warga Tapsel dan Kota Padangsidimpuan lebih memilih berlibur ke pantai yang ada di Kota Sibolga. Dan wajar saja pembangunan di kota itu lebih cepat berkembang dan lebih maju dibanding daerah sekitarnya seperti kota asalku Padangsidimpuan. Tidak adanya prioritas pemerintah terhadap pengembangan sektor wisata menjadikan daerah ini hanya sebagai kota transit jalur darat lintas Sumatera.

Tapi bukan menjadi masalah bagi kamu yang suka tantangan silakan berkunjung ke tempat ini, kamu akan merasakan adrenalin naik turun gunung disertai teriakan hewan-hewan primata yang senang melihat kehadiranmu.

Rasoki Martua

Bogor, 3| 08| 2014